Hi Fieewers!
Dr.Fieew here
Disclaimer dulu nih bahwa pos ini bukan milik gue. ini dikerjakan karena ada tugas sekolah. gue bakal nyertain sumbernya di bawah atau kalau lo mau liat penulisnya, langsung klik aja tombol merah pada namanya!Thank You
Dr.Fieew here
Disclaimer dulu nih bahwa pos ini bukan milik gue. ini dikerjakan karena ada tugas sekolah. gue bakal nyertain sumbernya di bawah atau kalau lo mau liat penulisnya, langsung klik aja tombol merah pada namanya!
Disclaimer dulu nih bahwa pos ini bukan milik gue. ini dikerjakan karena ada tugas sekolah. gue bakal nyertain sumbernya di bawah atau kalau lo mau liat penulisnya, langsung klik aja tombol merah pada namanya!
Thank You
Cipt. Indra Aziz
Berikut ini penjabaran saya
mengenai major label dan indie (independent) secara umum berdasarkan pengalaman
saya di kehidupan nyata, di Indonesia. Untuk kamu yang ingin tahu lebih banyak
mengenai topik ini dan bisnis musik secara umum, saya rekomendasi buku Music Biz RollingStone oleh
Wendy Putranto.
Menjadi artis rekaman, baik major label ataupun indie itu sama
saja secara “prosedural”. Yaitu melalui tahapan-tahapan dengan gambaran berikut
ini:
1. Pre-production – mengumpulkan materi lagu, aransemen, dll.
2. Production – rekaman, rekaman, rekaman.
3. Post production – editing, mixing, mastering, cetak CD.
4. Materi promo – desain cover, video, press release.
5. Distribusi – outlet fisik dan digital.
6. Promo – placement materi album/single di media, radio, TV, perform
(seringkali pro bono), wawancara, dll.
Ya, lebih kurangnya seperti di
atas itu. Kedua jalur sama saja. Lalu apa yang berbeda? Ada. Yaitu antara lain
support system dan kultur kerjanya. Support itu dalam bentuk dana dan jaringan.
Lalu ada juga perbedaan kultur di dalam keduanya, di mana yang indie lebih cenderung
menargetkan pasar yang niche, atau tajam, sedangkan major
label target pasarnya lebih masal.
Major label, seperti Sony Music, Musica Studios, Aquarius
Musikindo, dan Universal, adalah perusahaan-perusahaan rekaman yang besar dan
mapan. Saat ini, dengan perkembangan yang ada, juga maraknya download musik
secara ilegal, perusahaan tidak lagi bisa mendapat keuntungan dari penjualan.
Sehingga banyak label rekaman yang akhirnya merangkap jadi manajemen artis.
Perusahaan besar tentu perputaran uang juga harus besar untuk bisa terus
berjalan. Maka wajar saja jika pasar yang dituju lebih masal. Dengan begini,
sudah menjadi resiko mereka untuk menyediakan dana produksi dan promosi yang
besar pula jumlahnya. Di sisi lain, resiko bagi artisnya adalah, ia harus menjual,
dan menjual secara masal, kalau tidak, tentu perusahaan jadi tidak balik modal.
Tidak hanya dana, support system ini termasuk urusan distribusi, sehingga artis
tidak perlu repot mengurus penyebaran karyanya baik fisik maupun digital, semua
sudah diurus perusahaan. Juga, jaringan perusahaan major label juga sangat
luas, sehingga lebih mudah bagi artis major label untuk mendapat spot di acara
TV, wawancara, awarding, dsb.
Sementara itu, label indie,
seperti Demajors, dan artis independent atau indie, dengan semangat
memperjuangkan musik yang mereka mainkan tanpa ingin diintervensi kepentingan
bisnis perusahaan besar, lebih memilih jalur yang fokus pada pasar niche dan
komunitas. Dengan begitu, modalnya relatif lebih kecil dan mereka lebih leluasa
bergerak menentukan langkah. Dengan tidak adanya support dari perusahaan besar,
otomatis dana promo juga tidak besar. Tetapi saat ini untungnya sudah ada media
seperti YouTube dan Twitter yang sangat powerful jika digunakan
dengan tepat. Untuk distribusi, artis indie bisa saja melakukan sendiri, tapi
terlalu repot, pilihan lain adalah bekerjasama dengan label-label yang memiliki
jaringan distribusi. Kerjasama semacam ini disebut titip edar. Artis indie
harus siap bekerja sendiri dalam mempromosikan musiknya. Dalam hal ini,
komunitas sangatlah penting.
Jadi, yang manakah yang terbaik? Tidak ada pilihan yang terbaik,
keduanya adalah jalur yang sama-sama legit dalam berkarir musik, dengan
konsekuensinya sendiri-sendiri. Jadi pertanyaannya adalah, mana yang terbaik untuk
musik dan kepribadian kita. Bagaimana dengan kamu?
Source: http://vokalplus.com/indraaziz/article/4/perbedaan-major-dan-indie-label/
Berikut ini penjabaran saya
mengenai major label dan indie (independent) secara umum berdasarkan pengalaman
saya di kehidupan nyata, di Indonesia. Untuk kamu yang ingin tahu lebih banyak
mengenai topik ini dan bisnis musik secara umum, saya rekomendasi buku Music Biz RollingStone oleh
Wendy Putranto.
Menjadi artis rekaman, baik major label ataupun indie itu sama
saja secara “prosedural”. Yaitu melalui tahapan-tahapan dengan gambaran berikut
ini:
1. Pre-production – mengumpulkan materi lagu, aransemen, dll.
2. Production – rekaman, rekaman, rekaman.
3. Post production – editing, mixing, mastering, cetak CD.
4. Materi promo – desain cover, video, press release.
5. Distribusi – outlet fisik dan digital.
6. Promo – placement materi album/single di media, radio, TV, perform (seringkali pro bono), wawancara, dll.
2. Production – rekaman, rekaman, rekaman.
3. Post production – editing, mixing, mastering, cetak CD.
4. Materi promo – desain cover, video, press release.
5. Distribusi – outlet fisik dan digital.
6. Promo – placement materi album/single di media, radio, TV, perform (seringkali pro bono), wawancara, dll.
Ya, lebih kurangnya seperti di
atas itu. Kedua jalur sama saja. Lalu apa yang berbeda? Ada. Yaitu antara lain
support system dan kultur kerjanya. Support itu dalam bentuk dana dan jaringan.
Lalu ada juga perbedaan kultur di dalam keduanya, di mana yang indie lebih cenderung
menargetkan pasar yang niche, atau tajam, sedangkan major
label target pasarnya lebih masal.
Major label, seperti Sony Music, Musica Studios, Aquarius
Musikindo, dan Universal, adalah perusahaan-perusahaan rekaman yang besar dan
mapan. Saat ini, dengan perkembangan yang ada, juga maraknya download musik
secara ilegal, perusahaan tidak lagi bisa mendapat keuntungan dari penjualan.
Sehingga banyak label rekaman yang akhirnya merangkap jadi manajemen artis.
Perusahaan besar tentu perputaran uang juga harus besar untuk bisa terus
berjalan. Maka wajar saja jika pasar yang dituju lebih masal. Dengan begini,
sudah menjadi resiko mereka untuk menyediakan dana produksi dan promosi yang
besar pula jumlahnya. Di sisi lain, resiko bagi artisnya adalah, ia harus menjual,
dan menjual secara masal, kalau tidak, tentu perusahaan jadi tidak balik modal.
Tidak hanya dana, support system ini termasuk urusan distribusi, sehingga artis
tidak perlu repot mengurus penyebaran karyanya baik fisik maupun digital, semua
sudah diurus perusahaan. Juga, jaringan perusahaan major label juga sangat
luas, sehingga lebih mudah bagi artis major label untuk mendapat spot di acara
TV, wawancara, awarding, dsb.
Sementara itu, label indie,
seperti Demajors, dan artis independent atau indie, dengan semangat
memperjuangkan musik yang mereka mainkan tanpa ingin diintervensi kepentingan
bisnis perusahaan besar, lebih memilih jalur yang fokus pada pasar niche dan
komunitas. Dengan begitu, modalnya relatif lebih kecil dan mereka lebih leluasa
bergerak menentukan langkah. Dengan tidak adanya support dari perusahaan besar,
otomatis dana promo juga tidak besar. Tetapi saat ini untungnya sudah ada media
seperti YouTube dan Twitter yang sangat powerful jika digunakan
dengan tepat. Untuk distribusi, artis indie bisa saja melakukan sendiri, tapi
terlalu repot, pilihan lain adalah bekerjasama dengan label-label yang memiliki
jaringan distribusi. Kerjasama semacam ini disebut titip edar. Artis indie
harus siap bekerja sendiri dalam mempromosikan musiknya. Dalam hal ini,
komunitas sangatlah penting.
Jadi, yang manakah yang terbaik? Tidak ada pilihan yang terbaik,
keduanya adalah jalur yang sama-sama legit dalam berkarir musik, dengan
konsekuensinya sendiri-sendiri. Jadi pertanyaannya adalah, mana yang terbaik untuk
musik dan kepribadian kita. Bagaimana dengan kamu?

0 komentar:
Posting Komentar